Dimulai pula saat Anda masih bayi, tanpa tahu konsep yang jelas, apa yang akan Anda lihat, dengar, sentuh, cium dan rasakan. Anda belajar sendiri dari sense ini bagaimana dunia di sekitar Anda terbentuk dan bagaimana cara berinteraksi dengan dunia melalui banyak cara. Sebaiknya, begitulah seni diperkenalkan kepada anak. Menurut Nancy Beal, pengarang buku The Art of Teaching Art to Children in School and at Home, ada beberapa tips yang bisa digunakan untuk Mengenalkan Seni Pada Anak: 1. Biasakan Pada Materi-Materi Seni. Akrabkan anak-anak denganmateri seni yang akan diperkenalkan, baik alat music ataupun materi seni lainnya. Biarkanlah mereka bermain-main sampai merasa nyaman dan confident dengan materi seni itu.
2. Kenalkan pada Beberapa Bentuk. Jangan hanya mengenalkan satu jenis seni. Kenalkan pada anak beberapa jenis seni lainnya, walaupun Anda tidak suka.
3. Jangan Dipaksa! Segala sesuatu yang dipaksakan biasanya malah membuat anak jadi takut. Buatlah anak merasa aman, nyaman dan emotionally secure. Seni harusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan buat mereka.
4. Jangan Langsung Mengharapkan Hasil Optimal. Ketika mengajarkan seni pada anak bersabarlah. Jangan langsung mengharapkan hasil yang sempurna. Sebaiknya perhatian difokuskan pada proses anak dengan seni itu sendiri, hingga ia merasa sambung dengannya.
Berikut ini beberapa testimonial dari beberapa orang tua tentang bagaimana mereka memperkanlkan seni pada buah hati mereka:
“Saya sudah memperkenalkan seni pada Andita (6 tahun) sejak ia masih dalam perut. Caranya dengan meperdengarkan music klasik, katanya itu bagus untuk kecerdasan anak. Ketika menyusui atau menidurkannya, saya selalu pasang music, biasanya klasik atau easy listening. Sekarang ini Andita les piano, dia sendiri yang minta, padahal saya dan suamii tidak bisa main piano. Mungkin karena sejak kecil saya biasakan mendengarkan music.” Rika Sulistio, 29
“Saya enggak mau anak-anak saya Cuma jadi anak mal. Makanya saya suka ajak mereka ke museum, nonton teater anak-anak atau konser music yang dimainkan anak-anak. Sekarang malah mereka yang suka ngajak.” Febiola, 32
“Kalau saya sedang menggambar, saya juga member Sisco (4 tahun) kertas dan pensil. Jadi dia bisa bereksperimen sendiri dan tidak menggangu saya. Ketika suami saya main piano, dia membiarkan Sisco memencet tuts-tutsnya. Menjelang ulang tahunnya yang keempat, bukan mainan yang dia minta, tapi cat air dan kertas.” Sisi, 27
2. Kenalkan pada Beberapa Bentuk. Jangan hanya mengenalkan satu jenis seni. Kenalkan pada anak beberapa jenis seni lainnya, walaupun Anda tidak suka.
3. Jangan Dipaksa! Segala sesuatu yang dipaksakan biasanya malah membuat anak jadi takut. Buatlah anak merasa aman, nyaman dan emotionally secure. Seni harusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan buat mereka.
4. Jangan Langsung Mengharapkan Hasil Optimal. Ketika mengajarkan seni pada anak bersabarlah. Jangan langsung mengharapkan hasil yang sempurna. Sebaiknya perhatian difokuskan pada proses anak dengan seni itu sendiri, hingga ia merasa sambung dengannya.
Berikut ini beberapa testimonial dari beberapa orang tua tentang bagaimana mereka memperkanlkan seni pada buah hati mereka:
“Saya sudah memperkenalkan seni pada Andita (6 tahun) sejak ia masih dalam perut. Caranya dengan meperdengarkan music klasik, katanya itu bagus untuk kecerdasan anak. Ketika menyusui atau menidurkannya, saya selalu pasang music, biasanya klasik atau easy listening. Sekarang ini Andita les piano, dia sendiri yang minta, padahal saya dan suamii tidak bisa main piano. Mungkin karena sejak kecil saya biasakan mendengarkan music.” Rika Sulistio, 29
“Saya enggak mau anak-anak saya Cuma jadi anak mal. Makanya saya suka ajak mereka ke museum, nonton teater anak-anak atau konser music yang dimainkan anak-anak. Sekarang malah mereka yang suka ngajak.” Febiola, 32
“Kalau saya sedang menggambar, saya juga member Sisco (4 tahun) kertas dan pensil. Jadi dia bisa bereksperimen sendiri dan tidak menggangu saya. Ketika suami saya main piano, dia membiarkan Sisco memencet tuts-tutsnya. Menjelang ulang tahunnya yang keempat, bukan mainan yang dia minta, tapi cat air dan kertas.” Sisi, 27